
Gunungkidul – 28 Agustus 2025.
Keamanan pangan menjadi isu global yang semakin krusial di tengah ancaman kontaminasi patogen dan tantangan pemenuhan kebutuhan pangan bagi 10 miliar penduduk dunia pada tahun 2050. Menjawab tantangan tersebut, Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia (PERMI) Cabang Yogyakarta, bersama Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN serta PT Merck Life Science Indonesia, menyelenggarakan workshop bertajuk “Culture Meat and Food Safety”.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian The 3rd International Conference on Food and Agricultural Sciences (ICFAS) 2025, sekaligus menjadi ajang kolaborasi ilmiah antara akademisi, peneliti, dan industri.
Kolaborasi Riset untuk Keamanan Pangan
Workshop ini diikuti oleh peneliti BRIN, mahasiswa, akademisi dari UGM, UAJY, UNISA, serta mitra industri. “Workshop ini membuka peluang kolaborasi lintas institusi. Hingga Juli 2025, PRTPP telah menghasilkan 141 publikasi internasional, paten, dan lisensi. Kami optimis jumlah ini akan meningkat pasca-ICFAS,” ungkap Teguh Wahyono, Peneliti PRTPP BRIN sekaligus Wakil Ketua ICFAS 2025.
Inovasi Industri: Deteksi Patogen hingga Daging Kultivasi
Dari sisi industri, Merck Life Science Indonesia memperkenalkan solusi inovatif mulai dari deteksi patogen hingga teknologi daging kultivasi.
“Deteksi patogen menjadi langkah krusial untuk menjaga keamanan pangan dan kesehatan masyarakat. Menurut Bank Dunia, kerugian ekonomi global akibat penyakit dari pangan terkontaminasi mencapai lebih dari USD 110 miliar per tahun di negara berpendapatan menengah ke bawah,” ujar Gintang Prayogi, Sales Manager Bio Monitoring Merck.
Selain itu, Merck juga memperkenalkan teknologi daging kultivasi (cultured meat) sebagai alternatif berkelanjutan industri peternakan. “Daging kultivasi diproduksi melalui perbanyakan sel hewan dalam bioreaktor dengan empat aspek utama: pemilihan sel, media kultur, scaffold, dan bioreaktor,” jelas Sri Hayuni, Sales Manager Cell Biology Workflow Merck Life Science.
Sementara itu, Taufik Indarmawan, Solution Scientist Merck Life Science Indonesia, menambahkan pentingnya penggunaan teknik SDS-PAGE dalam analisis protein untuk food authentication, quality control, hingga deteksi alergen. “Teknologi ini sudah menjadi standar di lebih dari 80% laboratorium riset protein di dunia,” ujarnya.
Peran PERMI dalam Penguatan Jejaring Mikrobiologi
Sebagai tuan rumah kegiatan, PERMI Cabang Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat jejaring komunitas ilmiah mikrobiologi di Indonesia.
“Workshop ini bukan hanya sarana berbagi pengetahuan, tapi juga momentum reborn bagi PERMI untuk kembali aktif memberi manfaat, tidak hanya di Yogyakarta, tetapi juga di tingkat nasional dan internasional,” tutur Ema Damayanti, Ketua PERMI Cabang Yogyakarta sekaligus periset PRTPP BRIN.
Tahun 2025, PERMI telah menyiapkan sejumlah agenda besar, termasuk The 15th International Symposium of Indonesian Society for Microbiology, serta serangkaian webinar dan konferensi hasil kerja sama dengan International Union of Microbiological Societies (IUMS).
Dengan semangat kolaborasi antara peneliti, akademisi, mahasiswa, dan industri, PERMI berkomitmen untuk terus berperan aktif dalam pengembangan riset mikrobiologi dan mendukung terciptanya sistem pangan yang aman, sehat, dan berkelanjutan di Indonesia.



